Oleh : Fitri
Dewi Andani
Mahasiswa Bidikmisi, Jurusan
Kependidikan Islam (KI/III), Fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Di ujung timur
terlihat matahari bersinar begitu terang, menyinari kegelapan dunia. Seorang
gadis merenung tersendiri di bawah pohon rindang dengan genggaman Kertas putih
tergoreskan tinta biru. Gadis itu bernama Vina. Wajah penuh dengan kegelisahan,
bingung setelah membaca kertas itu. Hati Vina penuh ketidak percayaan. Vina bangkit
berdiri dari duduknya. Kebingungan tetap menghantuinya disetiap gerak langkahnya
menuju istana rumah diujung desa.
Angin yang berhembus
sangat kencang, tumbuh-tumbuhan, rerumputan, serta dedaunan yang tergantung
pada ranting pohon terlihat beralun-alun nyantai disekitarnya. Langkah demi
langkah Vina tempuh dengan rasa khawatir dan bingung. Dalam keheningan malam,
dihiasi indahnya bulan purnama yang terlihat diselah-selah jendela kamar. Vina
melamun. Pikirannya melayang, terbang berfikir menelusuri masa lalunya.
***
Embun pagi
membasahi hijaunya rerumputan. Kaki beralaskan sepatu hitam terlangkahkan
menuju SMPN 1 Sidomulyo. Waktu menunjukkan pukul tujuh tepat. Bel pertanda
masuk kelas telah berbunyi. Bu nana telah memulai pelajarannya. Vina bergegas
lari cepat-cepat menuju sekolah. “ma’af bu”, Vina terlambat lagi”. Vina berkata
dengan nafas berantakan dan malu. Bu nana berkata dengan nada tinggi, “ Vina,
kamu sudah tiga kali terlambat, untuk kali ini kamu tidak boleh masuk kelas”.
Dengan wajah kusut, Vina keluar kelas. Air mata bahagia menjadi kesedihan Vina.
Istirahat
kelas telah tiba, tiga geng ceriwis lewat depan Vina. Ani Salah satu dari
mereka berkata ”hei teman-teman, lihat tu si malas alias Vina habis di hukum Bu
nana. Idih,,, Rika menyahut perkataan Ani,” eh, iya tu, simalas gak punya jam
mungkin ya dirumahnya, makanya terlambat terus. Mereka bertiga tertawa puas
melihat Vina diperlakukan Bu nana seperti itu.
Awan mendung,
kabut hitam menutupi kecerahan matahari di siang ini. Keadaan semakin mendung
dengan air mata Vina yang tak henti-hentinya menangis. Vina berjalan pelan-pelan
menuju gerbang pintu keluar dengan menutupi kesedihannya.
Saat itu,
gadis berkerudung putih, wajah yang memancarkan cahaya, terlihat begitu anggun
dengan jalannya yang damai, santai tanpa ada kegelisahan sedikitpun. Namanya
adalah Robi’ah. Robi’ah menyapa Vina yang terus menundukkan kepalanya kebawah.
Dengan rasa minder Vina tak menghiraukan sapaan Robi’ah.
Hujan turun
membasahi ujung kepala mereka berdua. Robi’ah berkata”Vina, didepan gerbang ada
pos, ayo kita berteduh sebentar disana”, Mereka berdua lari menuju Pos itu. Robi’ah
bertanya” Vina, kenapa kamu menangis?”. Vina menjawab, “ tidak ada apa-apa Robi’,
jujur Vin, Robi’ah mendesak. Akhirnya Vina cerita kepada Robi’ah semua kejadian
tadi pagi. Robi’ah mencoba meredam kesedihannya,” Vina, sudah jangan menangis,
jangan hiraukan geng ceriwis itu, mereka memang suka syirik. Kamu yang sabar
ya, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Vina tersenyum
mendengar nasihat Robi’ah. akhir waktu perbincangan mereka berdua, Robi’ah
memberi Kitab yang dibawanya kepada Vina. Robi’ah berkata” Vin, suatu saat kamu
pasti mengerti arti dari kitab ini. Simpanlah baik-baik ya….”.
Robi’ah
memberi solusi permasalahan Vina selalu merujuk pegangan hidupnya yaitu
Al’Quran dan Hadist. Dia membacakan arti yang terkandung dalamnya. Hal ini
sering dilakukan Robi’ah untuk Vina. Meski Robi’ah tahu Vina tidaklah beragama
islam. Dari situlah Vina semakin akrab dengan Robi’ah.
Pertemuan Vina
dengan sahabatnya Robi’ah, terputus sampai disini. Karena ketika itu Robi’ah
pindah sekolah mengikuti orang tuanya keluar kota. Vina sedih sekali, sebab
tanpa kabar, tanpa pamit Robi’ah menghilang tanpa jejak.
Dalam selang
waktu 6 tahun lamanya, keadaan jiwa yang dipenuhi dengan emosi tinggi sebab
masalah yang menghampiri Vina tak kunjung selesai. Vina mengacak-acak almari
dengan kemarahan yang menggebu-gebu. Tanpa sengaja, Ia menemukan kitab
pemberian Robi’ah. Saat itu, suasana sangat penuh dengan amarah. setelah Ia
melihat kitab itu, suasana dengan sendirinya berubah menjadi lebih tenteram.
Karena Vina teringat dengan perkataan Robi’ah dulu. Ketika itu juga, Vina ingin
membuka dan membacanya.
Dengan
pelan-pelan Vina membuka halaman manapun dalam kitab itu. Ia membuka tepat pada
halaman awal pertengahan. Disitu Vina membaca yang berisikan “Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama
ini) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. Mereka
itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpahkan kepada mereka
(demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seuruhnya, mereka kekal di
dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi
tangguh”(Q.S 3: 85). isinya sangat
menggugah hati untuk sadar dalam hidup. Vina tulis terjemah itu dalam kertas
putih bertintakan biru. Mulai itu, Vina mengerti maksud perkataan Robi’ah.
***
Kenapa Vina
belum tidur, ini sudah malam nak”? Pak Badar ayahnya Vina menghentikan lamunan
Vina dengan mengejutkannya. Vina menjawab dengan ekspresi sedih dan bingung,”
eh.ehmm..”Vi..vi..na teringat Sahabatku dulu yah”. Setelah
itu, Vina berkata dengan rasa takut kepada Ayah, “ Ayah izinkalah aku menjadi
seorang muslimah sejati”. Saat iu juga ayah membentaknya, “ kamu sudah gila vin, ayah gak akan mengizinkan,
mau ditaruh dimana muka ayah, kalau memang kamu lebih memilih masuk agama
islam, mulai saat ini, detik ini, kamu keluar dari rumah ini. Dan jangan
berharap kamu bisa bertemu ayah lagi”. Saat itu juga ayah langsung pergi tak menghiraukan
perasaan Vina. “ perasaan sedih, gundah, serta hati ini menangis-nangis.
Benih-benih
air mata terjatuh. Kesedihan mengelilinginya, apa yang harus Ia lakukan. Vina
masih tetap berfikir nekat untuk melakukannya. Ia tetap teguh dengan
pendiriannya. saat itu juga Vina meninggalkan keluarganya. Ia hanya membawa
badan, kaki serta tangan dan kenikmatan lainnya yang diberikan Allah kepadanya
sebagai bekal menuju cahaya islam.
Malam
begitu dingin, Vina berjalan mencari rumah Robi’ah dekat sekolahnya dulu, ia percaya
Robi’ah pasti bisa membantunya. Vina terhenti kecapekan. Ia mencari tempat
untuk tidur sebagai persinggahan istirahatnya. Ia tertidur didepan toko besar
beralaskan kardus.
Pagi
muncul dengan hawa udara yang segar, tiba-tiba Robi’ah didepan matanya menyapa
“Vina, kenapa kamu tidur didepan tokoku? sehingga membuatku terkejut”. Vina
berkata dengan mata berbinar-binar,” benar ini kamu Robi’ah, Ia tidak percaya
Allah menemukan mereka berdua lagi. Vina berkata, ”menurutku agamamu membawa
cahaya kedamaian, oleh sebab itu, aku ingin…. Robi’ah menyahut, “Alhamdulillah
Vin”, Allah membukakan Pintu hatimu, mari masuk dulu”. Robi’ah menyuruh Vina
untuk mengucapkan Syahadat. Setelah itu Robi’ah berkata “kamu sudah syah
berstatus islam” dengan ucapan penuh dengan senyum manis. begitu bahagia dan
lega sekali Vina mendengar, sehingga kedamaian serta ketentraman hati terwujud
dalam diri Vina.(*)






0 komentar:
Posting Komentar