Cari Blog Ini

Ambisi

Jumat, 31 Agustus 2012

Pesan Sahabat


Oleh : Fitri Dewi Andani
Mahasiswa Bidikmisi, Jurusan Kependidikan Islam (KI/III), Fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Di ujung timur terlihat matahari bersinar begitu terang, menyinari kegelapan dunia. Seorang gadis merenung tersendiri di bawah pohon rindang dengan genggaman Kertas putih tergoreskan tinta biru. Gadis itu bernama Vina. Wajah penuh dengan kegelisahan, bingung setelah membaca kertas itu. Hati Vina penuh ketidak percayaan. Vina bangkit berdiri dari duduknya. Kebingungan tetap menghantuinya disetiap gerak langkahnya menuju istana rumah diujung desa.
Angin yang berhembus sangat kencang, tumbuh-tumbuhan, rerumputan, serta dedaunan yang tergantung pada ranting pohon terlihat beralun-alun nyantai disekitarnya. Langkah demi langkah Vina tempuh dengan rasa khawatir dan bingung. Dalam keheningan malam, dihiasi indahnya bulan purnama yang terlihat diselah-selah jendela kamar. Vina melamun. Pikirannya melayang, terbang berfikir menelusuri masa lalunya.
***
Embun pagi membasahi hijaunya rerumputan. Kaki beralaskan sepatu hitam terlangkahkan menuju SMPN 1 Sidomulyo. Waktu menunjukkan pukul tujuh tepat. Bel pertanda masuk kelas telah berbunyi. Bu nana telah memulai pelajarannya. Vina bergegas lari cepat-cepat menuju sekolah. “ma’af bu”, Vina terlambat lagi”. Vina berkata dengan nafas berantakan dan malu. Bu nana berkata dengan nada tinggi, “ Vina, kamu sudah tiga kali terlambat, untuk kali ini kamu tidak boleh masuk kelas”. Dengan wajah kusut, Vina keluar kelas. Air mata bahagia menjadi kesedihan Vina.
Istirahat kelas telah tiba, tiga geng ceriwis lewat depan Vina. Ani Salah satu dari mereka berkata ”hei teman-teman, lihat tu si malas alias Vina habis di hukum Bu nana. Idih,,, Rika menyahut perkataan Ani,” eh, iya tu, simalas gak punya jam mungkin ya dirumahnya, makanya terlambat terus. Mereka bertiga tertawa puas melihat Vina diperlakukan Bu nana seperti itu.
Awan mendung, kabut hitam menutupi kecerahan matahari di siang ini. Keadaan semakin mendung dengan air mata Vina yang tak henti-hentinya menangis. Vina berjalan pelan-pelan menuju gerbang pintu keluar dengan menutupi kesedihannya.
Saat itu, gadis berkerudung putih, wajah yang memancarkan cahaya, terlihat begitu anggun dengan jalannya yang damai, santai tanpa ada kegelisahan sedikitpun. Namanya adalah Robi’ah. Robi’ah menyapa Vina yang terus menundukkan kepalanya kebawah. Dengan rasa minder Vina tak menghiraukan sapaan Robi’ah.
Hujan turun membasahi ujung kepala mereka berdua. Robi’ah berkata”Vina, didepan gerbang ada pos, ayo kita berteduh sebentar disana”, Mereka berdua lari menuju Pos itu. Robi’ah bertanya” Vina, kenapa kamu menangis?”. Vina menjawab, “ tidak ada apa-apa Robi’, jujur Vin, Robi’ah mendesak. Akhirnya Vina cerita kepada Robi’ah semua kejadian tadi pagi. Robi’ah mencoba meredam kesedihannya,” Vina, sudah jangan menangis, jangan hiraukan geng ceriwis itu, mereka memang suka syirik. Kamu yang sabar ya, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Vina tersenyum mendengar nasihat Robi’ah. akhir waktu perbincangan mereka berdua, Robi’ah memberi Kitab yang dibawanya kepada Vina. Robi’ah berkata” Vin, suatu saat kamu pasti mengerti arti dari kitab ini. Simpanlah baik-baik ya….”.
Robi’ah memberi solusi permasalahan Vina selalu merujuk pegangan hidupnya yaitu Al’Quran dan Hadist. Dia membacakan arti yang terkandung dalamnya. Hal ini sering dilakukan Robi’ah untuk Vina. Meski Robi’ah tahu Vina tidaklah beragama islam. Dari situlah Vina semakin akrab dengan Robi’ah.
Pertemuan Vina dengan sahabatnya Robi’ah, terputus sampai disini. Karena ketika itu Robi’ah pindah sekolah mengikuti orang tuanya keluar kota. Vina sedih sekali, sebab tanpa kabar, tanpa pamit Robi’ah menghilang tanpa jejak.
Dalam selang waktu 6 tahun lamanya, keadaan jiwa yang dipenuhi dengan emosi tinggi sebab masalah yang menghampiri Vina tak kunjung selesai. Vina mengacak-acak almari dengan kemarahan yang menggebu-gebu. Tanpa sengaja, Ia menemukan kitab pemberian Robi’ah. Saat itu, suasana sangat penuh dengan amarah. setelah Ia melihat kitab itu, suasana dengan sendirinya berubah menjadi lebih tenteram. Karena Vina teringat dengan perkataan Robi’ah dulu. Ketika itu juga, Vina ingin membuka dan membacanya.
Dengan pelan-pelan Vina membuka halaman manapun dalam kitab itu. Ia membuka tepat pada halaman awal pertengahan. Disitu Vina membaca yang berisikan Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama ini) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpahkan kepada mereka (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seuruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh”(Q.S 3: 85). isinya sangat menggugah hati untuk sadar dalam hidup. Vina tulis terjemah itu dalam kertas putih bertintakan biru. Mulai itu, Vina mengerti maksud perkataan Robi’ah.
***
Kenapa Vina belum tidur, ini sudah malam nak”? Pak Badar ayahnya Vina menghentikan lamunan Vina dengan mengejutkannya. Vina menjawab dengan ekspresi sedih dan bingung,” eh.ehmm..”Vi..vi..na teringat Sahabatku dulu yah”. Setelah itu, Vina berkata dengan rasa takut kepada Ayah, “ Ayah izinkalah aku menjadi seorang muslimah sejati”. Saat iu juga ayah membentaknya, “  kamu sudah gila vin, ayah gak akan mengizinkan, mau ditaruh dimana muka ayah, kalau memang kamu lebih memilih masuk agama islam, mulai saat ini, detik ini, kamu keluar dari rumah ini. Dan jangan berharap kamu bisa bertemu ayah lagi”. Saat itu juga ayah langsung pergi tak menghiraukan perasaan Vina. “ perasaan sedih, gundah, serta hati ini menangis-nangis.
Benih-benih air mata terjatuh. Kesedihan mengelilinginya, apa yang harus Ia lakukan. Vina masih tetap berfikir nekat untuk melakukannya. Ia tetap teguh dengan pendiriannya. saat itu juga Vina meninggalkan keluarganya. Ia hanya membawa badan, kaki serta tangan dan kenikmatan lainnya yang diberikan Allah kepadanya sebagai bekal menuju cahaya islam.
Malam begitu dingin, Vina berjalan mencari rumah Robi’ah dekat sekolahnya dulu, ia percaya Robi’ah pasti bisa membantunya. Vina terhenti kecapekan. Ia mencari tempat untuk tidur sebagai persinggahan istirahatnya. Ia tertidur didepan toko besar beralaskan kardus.
Pagi muncul dengan hawa udara yang segar, tiba-tiba Robi’ah didepan matanya menyapa “Vina, kenapa kamu tidur didepan tokoku? sehingga membuatku terkejut”. Vina berkata dengan mata berbinar-binar,” benar ini kamu Robi’ah, Ia tidak percaya Allah menemukan mereka berdua lagi. Vina berkata, ”menurutku agamamu membawa cahaya kedamaian, oleh sebab itu, aku ingin…. Robi’ah menyahut, “Alhamdulillah Vin”, Allah membukakan Pintu hatimu, mari masuk dulu”. Robi’ah menyuruh Vina untuk mengucapkan Syahadat. Setelah itu Robi’ah berkata “kamu sudah syah berstatus islam” dengan ucapan penuh dengan senyum manis. begitu bahagia dan lega sekali Vina mendengar, sehingga kedamaian serta ketentraman hati terwujud dalam diri Vina.(*)


0 komentar:

Posting Komentar