Oleh: Tusela Ardikawati
Mahasiswa Bidik Misi, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
(PBI/ III), Fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel Surabaya
Pendidikan
menjadi kebutuhan yang semakin lama semakin dibutuhkan. Mengingat adanya persaingan di era modern
seperti sekarang pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting. Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk
bergerak maju dalam rangka mencapai tujuan kesejahteraan bersama memunculkan
berbagai macam aksi protes para pelaku pendidikan. Sebab, dipungkiri atau
tidak, pendidikan adalah salah satu aspek penting yang mendorong kemajuan suatu
bangsa. Kesadaran inilah yang akhirnya membuat pemerintah membuat kebijakan
untuk menganggarkan 20% dana APBN demi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Kebijakan
tersebut seolah memberi angin segar bagi mereka yang ingin mengenyam
pendidikan. Dengan kata lain, kesempatan untuk menyandang gelar pelajar terbuka
lebih lebar. Namun, tanpa disadari, dari sinilah permasalahan baru muncul. Dari
sinilah para “black official” tidak
bertanggung jawab tetapi amat jeli dan teliti mendapat kesempatan untuk
melakukan tindakan “black”-nya.
Berbicara
tentang pendidikan, saya rasa tidak akan ada habisnya. Malah justru semakin
melebar kemana-mana karena terlalu banyak pihak yang ‘terlibat’ dan
‘melibatkan’ diri yang justru membuat permasalahan ini semakin ruwet. Dan pada
akhirnya, pemerintah yang disalahkan. Padahal sesungguhnya, jika kita mau
meneliti sejenak, pemerintah bukan satu-satunya pihak yang wajib kita salahkan
sepenuhnya. Memang, pemerintah yang bertanggung jawab atas segala hal yang
berhubungan dengan pencapaian tujuan negara. Namun tidak lantas kita seenaknya
saja menyalahkan mereka. Mengapa saya menyatakan demikian?
Menurut
pendapat saya, pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk mencapai tujuan
bersama. Contohnya dalam bidang pendidikan, pemerintah sudah menyediakan
berbagai macam beasiswa dengan berbagai persyaratan. Ada yang untuk umum, dalam
arti hanya mensyaratkan pencapaian nilai. Ada juga yang khusus untuk pelajar
yang tergolong tidak mampu secara finansial namun memiliki ilmu atau kepandaian
yang mumpuni. Hal ini merupakan bentuk dari perhatian pemerintah dalam
mensejahterakan rakyat melalui pemerataan pendidikan. Lalu apa lagi yang kalian
inginkan wahai rakyat Indonesia? Apakah kalian merasa belum puas?
Yah,
menciptakan kebijakan memang mudah, namun tidak dengan penerapannya.
Mengharapkan pemerintah untuk terjun langsung adalah hal yang sulit. Masyarakat
Indonesia ini banyak jumlahnya dan tersebar dimana-dimana. Meminta pemerintah
untuk turun tangan langsung hanya akan membuat pelaksanaan kebijakan menjadi
tidak efektif. Selain itu, pemberian tugas dan kepercayaan terhadap bawahan
juga merupakan salah satu bentuk pemberdayaan rakyat. Lantas, siapa yang bisa
disalahkan? Kembali lagi, adanya oknum yang tidak bertanggung jawab lah yang
menyebabkan penyelewengan dan ketidaksesuaian ini terjadi.
Sebagai
contoh kasus, ada seseorang yang menerima beasiswa atau bantuan yang ditujukan
untuk keluarga tidak mampu. Namun ternyata setelah diselidiki, orang tersebut
adalah dari golongan berada yang berpura-pura menjadi orang miskin demi
mendapat keuntungan pribadi. Tidak
berbeda halnya dengan kasus BLT atau pengemis palsu.
Inilah mengapa saya mengatakan bahwa hidup
miskin telah menjadi “trend”. Betapa
tidak, semua orang memaknai pepatah “the
best thing in life is free” dengan pemahaman yang salah. Entah mengapa
juga, mereka yang mengaku bersusah payah untuk mendapat gelar konglomerat rela
melepas gelar itu hanya demi satu kata: Gratis.
Sungguh sudah benar-benar terbalik.
Tidak
dapat kita ingkari bahwa semua orang perlu uang, dan akan lebih suka apabila
mendapat keuntungan berlipat tanpa harus mengeluarkan banyak modal. Tetapi,
apabila kita telah mengaku sebagai educated
person, harusnya kita dapat lebih memahami situasi dan kondisi disekitar
kita. Bukan malah membuat semuanya lebih complicated
and complex.
Jadi,
daripada kita membuat masalah pendidikan semakin kompleks dan merembet
kemana-mana dengan ‘melibatkan diri’, alangkah baiknya jika kita berperan
memberantas ketidakjujuran level bawah yang terjadi di sekitar kita, menentang
tindakan-tindakan “black” dengan cara lebih selektif, professional, dan
terbuka. Satu lagi, murahkan kejujuranan dan jadikan ungkapan “berani karena
benar” tidak hanya berfungsi sebagai tulisan. The last but not the least,
memiliki niat yang baik serta ikhlas dalam melakukan segala hal adalah yang
paling penting.(*)







0 komentar:
Posting Komentar