Cari Blog Ini

Ambisi

Jumat, 31 Agustus 2012

Pendidikan dan Trend Hidup Miskin


Oleh: Tusela Ardikawati
Mahasiswa Bidik Misi, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI/ III), Fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel Surabaya

            Pendidikan menjadi kebutuhan yang semakin lama semakin dibutuhkan. Mengingat adanya persaingan di era modern seperti sekarang pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting. Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk bergerak maju dalam rangka mencapai tujuan kesejahteraan bersama memunculkan berbagai macam aksi protes para pelaku pendidikan. Sebab, dipungkiri atau tidak, pendidikan adalah salah satu aspek penting yang mendorong kemajuan suatu bangsa. Kesadaran inilah yang akhirnya membuat pemerintah membuat kebijakan untuk menganggarkan 20% dana APBN demi kemajuan pendidikan di Indonesia.
            Kebijakan tersebut seolah memberi angin segar bagi mereka yang ingin mengenyam pendidikan. Dengan kata lain, kesempatan untuk menyandang gelar pelajar terbuka lebih lebar. Namun, tanpa disadari, dari sinilah permasalahan baru muncul. Dari sinilah para “black official” tidak bertanggung jawab tetapi amat jeli dan teliti mendapat kesempatan untuk melakukan tindakan “black”-nya.
            Berbicara tentang pendidikan, saya rasa tidak akan ada habisnya. Malah justru semakin melebar kemana-mana karena terlalu banyak pihak yang ‘terlibat’ dan ‘melibatkan’ diri yang justru membuat permasalahan ini semakin ruwet. Dan pada akhirnya, pemerintah yang disalahkan. Padahal sesungguhnya, jika kita mau meneliti sejenak, pemerintah bukan satu-satunya pihak yang wajib kita salahkan sepenuhnya. Memang, pemerintah yang bertanggung jawab atas segala hal yang berhubungan dengan pencapaian tujuan negara. Namun tidak lantas kita seenaknya saja menyalahkan mereka. Mengapa saya menyatakan demikian?
            Menurut pendapat saya, pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk mencapai tujuan bersama. Contohnya dalam bidang pendidikan, pemerintah sudah menyediakan berbagai macam beasiswa dengan berbagai persyaratan. Ada yang untuk umum, dalam arti hanya mensyaratkan pencapaian nilai. Ada juga yang khusus untuk pelajar yang tergolong tidak mampu secara finansial namun memiliki ilmu atau kepandaian yang mumpuni. Hal ini merupakan bentuk dari perhatian pemerintah dalam mensejahterakan rakyat melalui pemerataan pendidikan. Lalu apa lagi yang kalian inginkan wahai rakyat Indonesia? Apakah kalian merasa belum puas?
            Yah, menciptakan kebijakan memang mudah, namun tidak dengan penerapannya. Mengharapkan pemerintah untuk terjun langsung adalah hal yang sulit. Masyarakat Indonesia ini banyak jumlahnya dan tersebar dimana-dimana. Meminta pemerintah untuk turun tangan langsung hanya akan membuat pelaksanaan kebijakan menjadi tidak efektif. Selain itu, pemberian tugas dan kepercayaan terhadap bawahan juga merupakan salah satu bentuk pemberdayaan rakyat. Lantas, siapa yang bisa disalahkan? Kembali lagi, adanya oknum yang tidak bertanggung jawab lah yang menyebabkan penyelewengan dan ketidaksesuaian ini terjadi.
            Sebagai contoh kasus, ada seseorang yang menerima beasiswa atau bantuan yang ditujukan untuk keluarga tidak mampu. Namun ternyata setelah diselidiki, orang tersebut adalah dari golongan berada yang berpura-pura menjadi orang miskin demi mendapat keuntungan  pribadi. Tidak berbeda halnya dengan kasus BLT atau pengemis palsu.
Inilah mengapa saya mengatakan bahwa hidup miskin telah menjadi “trend”. Betapa tidak, semua orang memaknai pepatah “the best thing in life is free” dengan pemahaman yang salah. Entah mengapa juga, mereka yang mengaku bersusah payah untuk mendapat gelar konglomerat rela melepas gelar itu hanya demi satu kata: Gratis. Sungguh sudah benar-benar terbalik.
            Tidak dapat kita ingkari bahwa semua orang perlu uang, dan akan lebih suka apabila mendapat keuntungan berlipat tanpa harus mengeluarkan banyak modal. Tetapi, apabila kita telah mengaku sebagai educated person, harusnya kita dapat lebih memahami situasi dan kondisi disekitar kita. Bukan malah membuat semuanya lebih complicated and complex.
            Jadi, daripada kita membuat masalah pendidikan semakin kompleks dan merembet kemana-mana dengan ‘melibatkan diri’, alangkah baiknya jika kita berperan memberantas ketidakjujuran level bawah yang terjadi di sekitar kita, menentang tindakan-tindakan “black” dengan cara lebih selektif, professional, dan terbuka. Satu lagi, murahkan kejujuranan dan jadikan ungkapan “berani karena benar” tidak hanya berfungsi sebagai tulisan. The last but not the least, memiliki niat yang baik serta ikhlas dalam melakukan segala hal adalah yang paling penting.(*)

0 komentar:

Posting Komentar