Sebagai seorang
penulis bukanlah suatu hal yang mudah, meskipun menulis tidak memerlukan dana
yang mahal. Menulis sebagai salah satu kebutuhan setiap manusia. Bila kita
lihat, semua pekerjaan pasti membutuhkan tulisan. Bahkan menjadi seorang petanipun
juga membutuhkannya, seperti ketika ia ingin menulis berapa besar biaya yang
akan ia butuhkan untuk memanen padi disawahnya. Menulis menjadi sebuah pilihan
yang terbaik dalam menemani keseharian kita.
Kehidupan
memang penuh dengan pilihan. Tidak hanya dua pilihan yang ada di depan mata
kita, namun beberapa pilihan menghantui kita. Hanya keberanianlah yang mampu
menepikan pilihan yang kurang serasi dengan kehidupan kita. Iya keberanian dan
semangatlah yang menghilangkan rasa takut dan mampu menghadirkan impian kita.
Setyo Pamuji,
mahasiswa bidik misi yang menghabiskan hari- harinya dengan menulis. Ia tidak
hanya sekedar menulis, namun beberapa tulisannya telah dimuat media masa. Baginya
menulis sebagai hobi yang sangat bagus, bahkan juga sebagai profesi dan menulis
merupakan salah satu alat untuk mengukir sejarah.
Pada awal masuk kuliah, beasiswa bidik misi agak lambat. Pencairan
dana bidik misi telat selama beberapa bulan. Hal tersebut membuat penerima
beasiswa kebingungan, tak terkecuali seorang mahasiswa kelahiran Tuban ini.
Persediaan makanan (beras untuk dimasak sendiri) telah menipis, uang saku dari
pinjaman juga sudah sangat menipis. Bahkan, saat itu ia hanya makan nasi saja
selama berhari-hari. Mencari kerja adalah salah satu usaha yang ia lakukan,
namun hal itu sangat sulit untuk didapatkannya.
Disaat yang seperti itu, mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat ini
mendapat informasi bahwa jika menulis di media massa dan dimuat akan mendapat
honor dari redaksi. Ia pun tertarik dengan hal itu. Ia mencoba mengirim
tulisannya dan selalu mencoba, meski beberapa kali tulisannya tetap nihil dan
tidak diterima oleh media massa. Padahal temannya yang bernama Adzim, menulis
satu kali langsung dimuat dimedia massa. Sehingga Setyo pun semakin menggebu
menulis dan menulis. Dalam menulis, ia juga mencari teman yang sudah
berkecimpung di media massa, yaitu mas Rofiqi. Beliau merupakan seorang
wartawan di kota metropolitan ini, Surabaya. Dari beliau, mahasiswa yang sering
dipanggil Tyo ini belajar menulis yang sistematis.
Hari demi hari telah ia lalui dengan harapan tulisan mampu menembus
media, namun hingga 20 kali lebih ia belum mampu. Meski diambang putus asa ia
tetap berusaha memotivasi diri sendiri. Ia teringat bahwa Thomas alva eddison
saja gagal ribuan kali untuk bisa menemukan lampu, kenapa ia gagal seperti ini
harus menyerah???
Untuk meraih impiannya, Tyo tidak patah arang. Ia selalu menulis
dan menulis, bahkan ia hanya menyisakan tiga jam waktu malamnya untuk istirahat
dan tidur. Namun, setelah beberapa hari bukan tulisan yang masuk ke media
massa, justru badannya lemas, dan terkena tifus. Akhirnya, ia berhenti beberapa
hari untuk tidak menulis. Allah memang tidak akan melalaikan hambaNya yang
mampu berusaha. Beberapa hari setelah itu, tiba- tiba ia melihat sebuah
tulisannya yang telah dimuat di rubrik OPINI Radar Surabaya. Tentu hal tersebut
menjadi gerbang ia untuk tetap menulis dan tetap mengukir keinginannya. Hingga
akhirnya, beberapa media massa nasional maupun lokal dapat ia tembus, yakni
Koran Suara Karya, Duta Mayarakat, Jawa Pos, Bali Post, Metro Riau, Pontianak
Post, Sinar Harapan, Harian Bhirawa, Lampung Post, dan Kompas. Itulah sekelumit
perjalanan seorang Alumnus dari SMA N 1 Rengel Tuban untuk mencapai mimpinya.
Awal Wirausaha
Panas terik matahari pada siang itu tidak menjadikannya lemah dan
menyerah. Dengan niat Bismillah, Tyo tetap berjalan menyusuri sepanjang
jalan untuk mendapatkan pembeli. Mulai dari bangku SD, ia telah membantu kedua
orang tuanya memenuhi kebutuhan keluarga. Setiap hari ia menjual es dari
desanya hingga kepelosok desa, bahkan ke sawah- sawah yang ada disekitar
desanya. Ia membawa 30 biji es, ditambah upah makan untuknya 3 biji, sehingga
jumlah keseluruhan 33 biji. Karena hari tersebut terik matahari sangat
menyengat, maka banyak orang yang membeli es sebagai obat penyembuh dahaga.
Sebagian telah dibeli oleh orang-orang yang dijumpainya di jalan desa. Sebagian
lagi, dibeli oleh bapak yang mengadakan panenan disawah yang ia lewati.
Perlu diketahui bahwa sistim jual es yang ia jalani ini bersifat
setoran. Jika 30 es yang ia pesan, maka ia dikasih 33 biji, tiga lebihnya
sebagai konsumsinya, maka ia harus menyetor kepada pembuat es sebanyak Rp
2.300,00. Itu artinya, uang yang ia dapat dalam sehari tersebut adalah Rp
1000,00 itupun jika ia tidak merasa haus. Padahal, dalam menjual es ia selalu
berjalan kaki berkilo-kilo mengitari beberapa perdukuhan di desanya, bahkan
kadang-kadang antar desa. Rasa haus sudah pasti ada. Oleh karenanya, seringkali
ia tidak sampai mendapatkan Rp 1000,00 perhari. Ada es yang ia konsumsi
sendiri, yang tentunya mengurangi jumlah pemasukannya.
Berbeda dengan para mahasiswa sekarang yang enggan untuk
menumbuhkan bakat berbisnisnya. Setyo di bangku kuliyah kini mampu membangun
kembali jiwa intrepreneurnya. . Sekarang ia membuka usaha sari kedelei di depan
kampus IAIN Sunan Ampel.
Namun, karena ia mempunyai kesibukan untuk menulis, maka ia
putuskan usaha tersebut untuk dijalankan temannya. Sesekali ia ikut membantu
berjualan, khususnya dalam menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk
berjualan. Dari sini, ia belajar untuk memanagemen keuangan. Ia berharap kelak
jadi pengusaha besar, dan dapat mempekerjakan ribuan orang. Jika saat ini ia
yang menerima beasiswa, kelak ia punya harapan dapat memberikan beasiswa bagi
orang lain. Amiin.
Begitulah segores tinta putih yang
bersinar dari tubuh seorang pemuda kelahiran 2 Agustus 1990 tersebut. Semoga
dengan kisah dari sosok Setyo mampu menumbuhkan semangat kita untuk tetap
berusaha mencapai mimpi.
“Bolehlah, bahkan wajib kita bermimpi
untuk masa depan, namun yang terpenting sekarang adalah kita berani bangun dari
tidur, dan berusaha untuk mewujudkan mimpi itu”. Pesan seorang
Penulis muda itu.







0 komentar:
Posting Komentar