Cari Blog Ini

Ambisi

Jumat, 31 Agustus 2012

Penulis & Entrepreneur Muda Ambisi

Sebagai seorang penulis bukanlah suatu hal yang mudah, meskipun menulis tidak memerlukan dana yang mahal. Menulis sebagai salah satu kebutuhan setiap manusia. Bila kita lihat, semua pekerjaan pasti membutuhkan tulisan. Bahkan menjadi seorang petanipun juga membutuhkannya, seperti ketika ia ingin menulis berapa besar biaya yang akan ia butuhkan untuk memanen padi disawahnya. Menulis menjadi sebuah pilihan yang terbaik dalam menemani keseharian kita.  
Kehidupan memang penuh dengan pilihan. Tidak hanya dua pilihan yang ada di depan mata kita, namun beberapa pilihan menghantui kita. Hanya keberanianlah yang mampu menepikan pilihan yang kurang serasi dengan kehidupan kita. Iya keberanian dan semangatlah yang menghilangkan rasa takut dan mampu menghadirkan impian kita.  
Setyo Pamuji, mahasiswa bidik misi yang menghabiskan hari- harinya dengan menulis. Ia tidak hanya sekedar menulis, namun beberapa tulisannya telah dimuat media masa. Baginya menulis sebagai hobi yang sangat bagus, bahkan juga sebagai profesi dan menulis merupakan salah satu alat untuk mengukir sejarah.
Pada awal masuk kuliah, beasiswa bidik misi agak lambat. Pencairan dana bidik misi telat selama beberapa bulan. Hal tersebut membuat penerima beasiswa kebingungan, tak terkecuali seorang mahasiswa kelahiran Tuban ini. Persediaan makanan (beras untuk dimasak sendiri) telah menipis, uang saku dari pinjaman juga sudah sangat menipis. Bahkan, saat itu ia hanya makan nasi saja selama berhari-hari. Mencari kerja adalah salah satu usaha yang ia lakukan, namun hal itu sangat sulit untuk didapatkannya.
Disaat yang seperti itu, mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat ini mendapat informasi bahwa jika menulis di media massa dan dimuat akan mendapat honor dari redaksi. Ia pun tertarik dengan hal itu. Ia mencoba mengirim tulisannya dan selalu mencoba, meski beberapa kali tulisannya tetap nihil dan tidak diterima oleh media massa. Padahal temannya yang bernama Adzim, menulis satu kali langsung dimuat dimedia massa. Sehingga Setyo pun semakin menggebu menulis dan menulis. Dalam menulis, ia juga mencari teman yang sudah berkecimpung di media massa, yaitu mas Rofiqi. Beliau merupakan seorang wartawan di kota metropolitan ini, Surabaya. Dari beliau, mahasiswa yang sering dipanggil Tyo ini belajar menulis yang sistematis.
Hari demi hari telah ia lalui dengan harapan tulisan mampu menembus media, namun hingga 20 kali lebih ia belum mampu. Meski diambang putus asa ia tetap berusaha memotivasi diri sendiri. Ia teringat bahwa Thomas alva eddison saja gagal ribuan kali untuk bisa menemukan lampu, kenapa ia gagal seperti ini harus menyerah???
Untuk meraih impiannya, Tyo tidak patah arang. Ia selalu menulis dan menulis, bahkan ia hanya menyisakan tiga jam waktu malamnya untuk istirahat dan tidur. Namun, setelah beberapa hari bukan tulisan yang masuk ke media massa, justru badannya lemas, dan terkena tifus. Akhirnya, ia berhenti beberapa hari untuk tidak menulis. Allah memang tidak akan melalaikan hambaNya yang mampu berusaha. Beberapa hari setelah itu, tiba- tiba ia melihat sebuah tulisannya yang telah dimuat di rubrik OPINI Radar Surabaya. Tentu hal tersebut menjadi gerbang ia untuk tetap menulis dan tetap mengukir keinginannya. Hingga akhirnya, beberapa media massa nasional maupun lokal dapat ia tembus, yakni Koran Suara Karya, Duta Mayarakat, Jawa Pos, Bali Post, Metro Riau, Pontianak Post, Sinar Harapan, Harian Bhirawa, Lampung Post, dan Kompas. Itulah sekelumit perjalanan seorang Alumnus dari SMA N 1 Rengel Tuban untuk mencapai mimpinya.

Awal Wirausaha
Panas terik matahari pada siang itu tidak menjadikannya lemah dan menyerah. Dengan niat Bismillah, Tyo tetap berjalan menyusuri sepanjang jalan untuk mendapatkan pembeli. Mulai dari bangku SD, ia telah membantu kedua orang tuanya memenuhi kebutuhan keluarga. Setiap hari ia menjual es dari desanya hingga kepelosok desa, bahkan ke sawah- sawah yang ada disekitar desanya. Ia membawa 30 biji es, ditambah upah makan untuknya 3 biji, sehingga jumlah keseluruhan 33 biji. Karena hari tersebut terik matahari sangat menyengat, maka banyak orang yang membeli es sebagai obat penyembuh dahaga. Sebagian telah dibeli oleh orang-orang yang dijumpainya di jalan desa. Sebagian lagi, dibeli oleh bapak yang mengadakan panenan disawah yang ia lewati.
Perlu diketahui bahwa sistim jual es yang ia jalani ini bersifat setoran. Jika 30 es yang ia pesan, maka ia dikasih 33 biji, tiga lebihnya sebagai konsumsinya, maka ia harus menyetor kepada pembuat es sebanyak Rp 2.300,00. Itu artinya, uang yang ia dapat dalam sehari tersebut adalah Rp 1000,00 itupun jika ia tidak merasa haus. Padahal, dalam menjual es ia selalu berjalan kaki berkilo-kilo mengitari beberapa perdukuhan di desanya, bahkan kadang-kadang antar desa. Rasa haus sudah pasti ada. Oleh karenanya, seringkali ia tidak sampai mendapatkan Rp 1000,00 perhari. Ada es yang ia konsumsi sendiri, yang tentunya mengurangi jumlah pemasukannya.
Berbeda dengan para mahasiswa sekarang yang enggan untuk menumbuhkan bakat berbisnisnya. Setyo di bangku kuliyah kini mampu membangun kembali jiwa intrepreneurnya. . Sekarang ia membuka usaha sari kedelei di depan kampus IAIN Sunan Ampel.
Namun, karena ia mempunyai kesibukan untuk menulis, maka ia putuskan usaha tersebut untuk dijalankan temannya. Sesekali ia ikut membantu berjualan, khususnya dalam menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk berjualan. Dari sini, ia belajar untuk memanagemen keuangan. Ia berharap kelak jadi pengusaha besar, dan dapat mempekerjakan ribuan orang. Jika saat ini ia yang menerima beasiswa, kelak ia punya harapan dapat memberikan beasiswa bagi orang lain. Amiin.
Begitulah segores tinta putih yang bersinar dari tubuh seorang pemuda kelahiran 2 Agustus 1990 tersebut. Semoga dengan kisah dari sosok Setyo mampu menumbuhkan semangat kita untuk tetap berusaha mencapai mimpi. 
“Bolehlah, bahkan wajib kita bermimpi untuk masa depan, namun yang terpenting sekarang adalah kita berani bangun dari tidur, dan berusaha untuk mewujudkan mimpi itu”. Pesan seorang Penulis muda itu.


       

0 komentar:

Posting Komentar