Mahasiswa Bidik Misi Jurusan Ahwalus Syahsiyah (AS/V), Fakultas
Syariah, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Sekaligus Tercatat Sebagai Aktifis
Pergerakan.
Hampir
tidak ada yang bisa membantah bahwa tingkat kesejahteraan suatu bangsa sangat
tergantung pada kualitas pendidikannya. Dalam artian kualitas sumber daya
manusia suatu bangsa punya andil yang cukup signifikan dalam menentukan
kesejahteraan bangsa tersebut. Statement ini mungkin terkesan berlebihan, namun
tidak bisa dikatakan salah jika mengingat peranan pendidikan yang begitu besar.
Yang mana pola pikir dan paradigma hidup seseorang sangatlah dipengaruhi oleh
lingkungan pendidikannya. Sehingga hampir dapat dipastikan bahwa kehidupan
masyarakat yang pendidikannya berkualitas akan lebih baik dibandingkan
masyarakat yang kualitas pendidikannya rendah.
Secara
kodrati Indonesia mempunyai kekayaan yang melimpah ruah. Namun keindahan dan
kekayaan alam nusantara yang tersebar diberbagai pulau tersebut menjadi tidak bermakna apa-apa
ketika tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Dan
bahkan bisa jadi keindahan dan kekayaan yang melimpah tersebut justru menjadi
“musuh dalam selimut” bangsa ini sendiri.
Sebagaimana
kita ketahui dalam teori kemajuan ekonomi ada yang disebut dengan teori
“kutukan sumber daya alam”. Teori ini mengatakan
suatu negara yang dilimpahi dengan sumber daya alam yang besar cenderung tidak
bisa maju berkelanjutan". Artinya, bangsa yang dikaruniai sumber
daya alam melimpah jika tidak hati-hati justru bisa jadi kutukan dan menjadikan
bangsa tidak maju-maju. Karena biasanya bangsa tersebut cenderung akan terlena
dengan kekayaan alam tersebut sehingga lupa terkait bagaimana mengolahnya.
Dari
sini bisa kita ketahui bagaimana besarnya peranan pendidikan bagi kehidupan
seseorang. Jika kita melihat kekayaan Indonesia yang begitu melimpah
dibandingkan dengan negara lain, maka seharusnya kekayaan tersebut sudah mampu
menyejahterakan dan memakmurkan kehidupan bangsanya. Tidak kalah dengan negara-negara
maju yang mayoritas kekayaan alamnya tidak sebagus Indonesia.
Namun rupanya hal
tersebut masih jauh dari kenyataan. Kesenjangan ekonomi masih tergolong sangat
tinggi. Disana-sini masih banyak rakyat miskin yang hidup jauh dari kelayakan
ditengah keglamoran hidup para koruptor. Kemiskinan masih menjerat mayoritas
kehidupan bangsa ini. Dalam kaitannya dengan hal tersebut pendidikan merupakan
hal yang tidak bisa dipisahkan. Lalu sudahkah pendidikan berperan untuk
mengentaskan semua maslah-masalah itu?.
Harapan Semu
Satu-satunya
tumpuan yang diharapkan mampu membawa perubahan ke arah perbaikan di tengah
keadaan bangsa yang kian limbung dalam berbagai persoalan adalah dunia akademis
atau pendidikan. Karena disinilah pola pikir, mental, kepandaian dan karakter
anak bangsa diasah dan dibangun. Namun melihat realita dunia pendidikan yang
juga bermasalah, menjadikan kita pesimis dengan hal tersebut. Karena mengharapkan penyelesaian masalah
dari sesuatu yang juga bermasalah tentu tidak dapat dibenarkan. Dan bisa
disebut sebagai harapan semu. Yakni harapan yang tak akan pernah bisa
kita raih.
Berbagai
permaslahan sedang menjerat dunia pendidikan kita. Pertama, mahalnya biaya
sekolah. Tanpa menafikan upaya pemerintah dalam menangani persoalan tersebut
seperti penyelenggaraan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi tingkatan
sekolah dasar dan menengah serta Beasiswa Bantuan Pendidikan Bagi Mahasiswa
Berprestasi Dari Keluarga Kurang Mampu (Bidik Misi) di tingkatan sekolah tinggi.
Namun harus tetap diakui bahwa hal tersebut masih kurang cukup membantu
kebutuhan rakyat ini. Dengan kuota yang terbatas dibandingkan dengan angka kemiskinan
rakyat yang begitu melambung. Sehingga hanya orang-orang elit saja yang dapat
menjangkau dan mendapatkan pendidikan yang layak.
Permasalahan
kedua, bahwa pendidikan kita masih terjebak dalam dunia formalitas. Angka-angka
masih menjadi indikator kepandaian seseorang. Semisal untuk mengukur tingkat
dan kualitas pendidikan anak bangsa saja dilakukan dengan penyelenggaraan Ujian
Nasional (Unas) yang meraup banyak uang negara. Seandainaya dana tersebut
dialihkan untuk pemenuhan kebutuhan rakyat yang lain, tentu akan menjadi lebih
baik.
Terkait dengan
upaya untuk mengetahui tingkat pendidikan nasional seharusnya bisa dicarikan
alternatif lain. Semisal dengan diserahkan kepada sekolah-sekolah untuk
menyelenggarakan ujian sendiri. Toh, dalam Unas masih banyak sekali
pelanggaran. Selain hal tersebut, pendidikan kita masih cenderung suka
mengedepankan kepandaian kognitif semata, tanpa mengutamakan kepandaian afektif
dan psikomotorik. Sehingga tidak ayal jika pejabat negara yang katanya berpendidikan tinggi masih
sering buta. Ya, buta dengan buaian harta sehingga melupakan etika
berkehidupan. Rela memakan uang rakyat yang kian limbung dalam berbagai
persoalan kehidupan.
Poin
ketiga adalah bahwa pendidikan Indonesia masih sangat kental dengan ajang komersialisasi.
Semisal penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). RSBI dinilai melanggar hak konstitusi
sebagian warga dalam dalam pemenuhan kewajiban mengikuti pendidikan dasar. RSBI
juga menimbulkan deskriminasi dan kastanisasi dunia pendidikan.
Hal ini juga dinilai tidak sejalan dengan amanah
Undang-undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, juga melanggar
Sila kelima Pancasila, “Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia“. Karena untuk
masuk RSBI harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal, sehingga RSBI tidak bisa
diakses golongan orang miskin.
Tiga poin diatas
hanyalah sedikit dari berbagai persoalan yang tidak bisa saya sebutkan
satu-persatu. Kedepan perbaikan
terhadap pendidikan harus senantiasa dilakukan. Demi mengawal kejayaan Bangsa.
Membangun pendidikan yang berkarakter sesuai harapan Menteri Pendidikan M. Nuh
perlu terus dikembangkan. Pemerintah dan kementerian pendidikan pada khususnya
harus lebih intens dalam menciptakan keseimbangan dan keselarasan pendidikan.
Sehingga tidak lagi ada kesenjangan.
Dengan pendidikan yang berkualitas kesadaran
berbangsa dan bernegarapun akan terus meningkat. Dan dengan hal tersebut
optimistis untuk meraih kejayaan masa depan akan lebih cerah. Sehingga
kesejahteraan bangsapun akan kita raih. Semoga !







0 komentar:
Posting Komentar