Cari Blog Ini

Ambisi

Jumat, 31 Agustus 2012

Pendidikan dan Kesejahteraan Bangsa


Oleh: Ahmad Maskur
Mahasiswa Bidik Misi Jurusan Ahwalus Syahsiyah (AS/V), Fakultas Syariah, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Sekaligus Tercatat Sebagai Aktifis Pergerakan.

Hampir tidak ada yang bisa membantah bahwa tingkat kesejahteraan suatu bangsa sangat tergantung pada kualitas pendidikannya. Dalam artian kualitas sumber daya manusia suatu bangsa punya andil yang cukup signifikan dalam menentukan kesejahteraan bangsa tersebut. Statement ini mungkin terkesan berlebihan, namun tidak bisa dikatakan salah jika mengingat peranan pendidikan yang begitu besar. Yang mana pola pikir dan paradigma hidup seseorang sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan pendidikannya. Sehingga hampir dapat dipastikan bahwa kehidupan masyarakat yang pendidikannya berkualitas akan lebih baik dibandingkan masyarakat yang kualitas pendidikannya rendah.
Secara kodrati Indonesia mempunyai kekayaan yang melimpah ruah. Namun keindahan dan kekayaan alam nusantara yang tersebar diberbagai  pulau tersebut menjadi tidak bermakna apa-apa ketika tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Dan bahkan bisa jadi keindahan dan kekayaan yang melimpah tersebut justru menjadi “musuh dalam selimut” bangsa ini sendiri.
Sebagaimana kita ketahui dalam teori kemajuan ekonomi ada yang disebut dengan teori “kutukan sumber daya alam”. Teori ini mengatakan suatu negara yang dilimpahi dengan sumber daya alam yang besar cenderung tidak bisa maju berkelanjutan". Artinya, bangsa yang dikaruniai sumber daya alam melimpah jika tidak hati-hati justru bisa jadi kutukan dan menjadikan bangsa tidak maju-maju. Karena biasanya bangsa tersebut cenderung akan terlena dengan kekayaan alam tersebut sehingga lupa terkait bagaimana mengolahnya.
Dari sini bisa kita ketahui bagaimana besarnya peranan pendidikan bagi kehidupan seseorang. Jika kita melihat kekayaan Indonesia yang begitu melimpah dibandingkan dengan negara lain, maka seharusnya kekayaan tersebut sudah mampu menyejahterakan dan memakmurkan kehidupan bangsanya. Tidak kalah dengan negara-negara maju yang mayoritas kekayaan alamnya tidak sebagus Indonesia.
Namun rupanya hal tersebut masih jauh dari kenyataan. Kesenjangan ekonomi masih tergolong sangat tinggi. Disana-sini masih banyak rakyat miskin yang hidup jauh dari kelayakan ditengah keglamoran hidup para koruptor. Kemiskinan masih menjerat mayoritas kehidupan bangsa ini. Dalam kaitannya dengan hal tersebut pendidikan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Lalu sudahkah pendidikan berperan untuk mengentaskan semua maslah-masalah itu?.
Harapan Semu
            Satu-satunya tumpuan yang diharapkan mampu membawa perubahan ke arah perbaikan di tengah keadaan bangsa yang kian limbung dalam berbagai persoalan adalah dunia akademis atau pendidikan. Karena disinilah pola pikir, mental, kepandaian dan karakter anak bangsa diasah dan dibangun. Namun melihat realita dunia pendidikan yang juga bermasalah, menjadikan kita pesimis dengan hal tersebut. Karena mengharapkan penyelesaian masalah dari sesuatu yang juga bermasalah tentu tidak dapat dibenarkan. Dan bisa disebut sebagai harapan semu. Yakni harapan yang tak akan pernah bisa kita raih.
            Berbagai permaslahan sedang menjerat dunia pendidikan kita. Pertama, mahalnya biaya sekolah. Tanpa menafikan upaya pemerintah dalam menangani persoalan tersebut seperti penyelenggaraan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi tingkatan sekolah dasar dan menengah serta Beasiswa Bantuan Pendidikan Bagi Mahasiswa Berprestasi Dari Keluarga Kurang Mampu (Bidik Misi) di tingkatan sekolah tinggi. Namun harus tetap diakui bahwa hal tersebut masih kurang cukup membantu kebutuhan rakyat ini. Dengan kuota yang terbatas dibandingkan dengan angka kemiskinan rakyat yang begitu melambung. Sehingga hanya orang-orang elit saja yang dapat menjangkau dan mendapatkan pendidikan yang layak.
            Permasalahan kedua, bahwa pendidikan kita masih terjebak dalam dunia formalitas. Angka-angka masih menjadi indikator kepandaian seseorang. Semisal untuk mengukur tingkat dan kualitas pendidikan anak bangsa saja dilakukan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional (Unas) yang meraup banyak uang negara. Seandainaya dana tersebut dialihkan untuk pemenuhan kebutuhan rakyat yang lain, tentu akan menjadi lebih baik.
Terkait dengan upaya untuk mengetahui tingkat pendidikan nasional seharusnya bisa dicarikan alternatif lain. Semisal dengan diserahkan kepada sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan ujian sendiri. Toh, dalam Unas masih banyak sekali pelanggaran. Selain hal tersebut, pendidikan kita masih cenderung suka mengedepankan kepandaian kognitif semata, tanpa mengutamakan kepandaian afektif dan psikomotorik. Sehingga tidak ayal jika pejabat negara  yang katanya berpendidikan tinggi masih sering buta. Ya, buta dengan buaian harta sehingga melupakan etika berkehidupan. Rela memakan uang rakyat yang kian limbung dalam berbagai persoalan kehidupan.
            Poin ketiga adalah bahwa pendidikan Indonesia masih sangat kental dengan ajang komersialisasi. Semisal penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). RSBI dinilai melanggar hak konstitusi sebagian warga dalam dalam pemenuhan kewajiban mengikuti pendidikan dasar. RSBI juga menimbulkan deskriminasi dan kastanisasi dunia pendidikan.
Hal ini juga dinilai tidak sejalan dengan amanah Undang-undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, juga melanggar Sila kelima Pancasila, “Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia“. Karena untuk masuk RSBI harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal, sehingga RSBI tidak bisa diakses golongan orang miskin.
Tiga poin diatas hanyalah sedikit dari berbagai persoalan yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Kedepan perbaikan terhadap pendidikan harus senantiasa dilakukan. Demi mengawal kejayaan Bangsa. Membangun pendidikan yang berkarakter sesuai harapan Menteri Pendidikan M. Nuh perlu terus dikembangkan. Pemerintah dan kementerian pendidikan pada khususnya harus lebih intens dalam menciptakan keseimbangan dan keselarasan pendidikan. Sehingga tidak lagi ada kesenjangan.
Dengan pendidikan yang berkualitas kesadaran berbangsa dan bernegarapun akan terus meningkat. Dan dengan hal tersebut optimistis untuk meraih kejayaan masa depan akan lebih cerah. Sehingga kesejahteraan bangsapun akan kita raih. Semoga !
           

0 komentar:

Posting Komentar