Cari Blog Ini

Ambisi

Jumat, 31 Agustus 2012

Pendidikan dan Kemiskinan


Berbicara tentang pendidikan, terutama pendidikan di Indonesia, bayangan kita masih tidak bisa lepas dari yang namanya kemiskinan. Kemiskinan masih menjadi pemandangan umum bagi mayoritas kehidupan bangsa ini. Dalam kaitannya dengan hal tersebut pendidikan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Pasalnya pendidikan menjadi sejata ampuh untuk mengentaskan kemiskinan. Lantas sudahkah pendidikan di Indonesia memperlihatkan keampuhannya itu?
Pendidikan merupakan sarana untuk mentransformasi kehidupan kearah yang lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial seseorang. Orang yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan (prestice of life) dimata publik, walaupun tidak memiliki kekayaan yang berlimpah.
Sedangkan kemiskinan -secara kasat mata- seringkali diartikan sebagi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Banyak yang mengartikan kemiskinan merupakan takdir Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya karena memang sudah menjadi jalan hidup seseorang. Namun, kemiskinan seringkali menjadi kendala akan keberlangsungan pendidikan, terutama pendidikan yang berkualitas. Karena pendidikan yang berkualitas masih menjadi barang mahal di negeri ini.
Pendidikan adalah suatu hal yang sangat urgen untuk dilaksanakan. Melalui pendidikan seseorang akan mudah menggapai cita-cita. Dengan pendidikan juga banyak sekali manfaat yang diperoleh. Misalnya, pengetahuan luas, dapat mengetahui keadaan dunia, melihat permasalahan dunia, dan tentunya dengan pendidikan strata sosial akan terangkat. Dengan pendidikan pula akan membedakan mana yang pandai dan mana yang bukan. Bukankah Islam mewajibkan umatnya untuk berpendidikan?
Seorang yang mengenyam pendidikan pasti hidupnya tidak akan terombang ambing. Hidupnya pasti bisa lebih terarah dengan skill yang dimiliki. Ironisnya, pendidikan terutama di Indonesia, menjadi layaknya barang mahal yang sulit untuk dibeli. Mungkin sekarang kita bisa bernafas lega, karena mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berstatus negeri, sudah banyak yang digratiskan. Akan tetapi untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi kita mesti harus merogoh saku, karena saking mahalnya biaya perguruan tinggi itulah banyak yang harus rela memutus pendidikan hanya sampai lulus SMA.
Kemiskinan adalah faktor utama seorang tidak bisa melanjutkan pendidikan. Karena dirasa biaya pendidikan itu sangat mahal. Sehingga mereka berfikir untuk makan saja tidak ada apalagi untuk biaya pendidikan. Sehingga tidak jarang dari kita yang terpaksa kerja sebagai pengamen, pengemis, pedagang asongan, dan bahkan menjadi pemulung.
Padahal penerus generasi bangsa ada di tangan pemuda. Kalau pemuda awalnya sudah seperti ini lantas kepada siapakah Negara akan dipasrahkan. Sebenarnya kalau difikir faktor utama yang membuat mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan bukan masalah ekonomi, akan tetapi masalah sadar dan tidak, masalah mau dan tidak.
Sebenarnya yang menjadi masalah adalah bagaimana cara merubah paradigma berfikir seseorang. Biasanya orang yang sudah terbiasa hidup miskin cenderung tidak memperdulikan masalah pendidikan. Mereka hanya mempersoalkan masalah makan, makan dan makan. Kalau mereka tahu akan pentingnya pendidikan untuk masa depan, tentu mereka akan menempuh cara apapun, meskipun dalam keadaan miskin.
Sekarang banyak sekali bantuan dari pemerintah, mulai dari dana BOS, bantuan siswa berprestasi untuk anak yang miskin, dan juga ada sekolah-sekolah yang memberikan keringanan membayar uang gedung dan uang SPP bagi yang tidak mampu. Banyak program-program pemerintah yang khusus untuk menanggulangi problem pendidikan, seperti pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi dari kalangan kurang mampu, yakni melalui Program Bidik Misi, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, siapapun kita dari berbagai kalangan berhak untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Sehingga dengan berpendidikan yang tinggi itu mampu merubah kehidupan menjadi yang lebih baik. Semoga !
Pimpinan Redaksi, Muhammad Ali Murtadlo

0 komentar:

Posting Komentar