Berbicara tentang pendidikan, terutama pendidikan di Indonesia,
bayangan kita masih tidak bisa lepas dari yang namanya kemiskinan. Kemiskinan
masih menjadi pemandangan umum bagi mayoritas kehidupan bangsa ini. Dalam
kaitannya dengan hal tersebut pendidikan merupakan hal yang tidak bisa
dipisahkan. Pasalnya pendidikan menjadi sejata ampuh untuk mengentaskan
kemiskinan. Lantas sudahkah pendidikan di Indonesia memperlihatkan keampuhannya
itu?
Pendidikan merupakan sarana untuk mentransformasi kehidupan kearah
yang lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial
seseorang. Orang yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan (prestice
of life) dimata publik, walaupun tidak memiliki kekayaan yang berlimpah.
Sedangkan kemiskinan -secara kasat mata- seringkali diartikan
sebagi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Banyak yang
mengartikan kemiskinan merupakan takdir Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya
karena memang sudah menjadi jalan hidup seseorang. Namun, kemiskinan seringkali
menjadi kendala akan keberlangsungan pendidikan, terutama pendidikan yang
berkualitas. Karena pendidikan yang berkualitas masih menjadi barang mahal di
negeri ini.
Pendidikan adalah suatu hal yang sangat urgen untuk
dilaksanakan. Melalui pendidikan seseorang akan mudah menggapai cita-cita.
Dengan pendidikan juga banyak sekali manfaat yang diperoleh. Misalnya,
pengetahuan luas, dapat mengetahui keadaan dunia, melihat permasalahan dunia,
dan tentunya dengan pendidikan strata sosial akan terangkat. Dengan pendidikan
pula akan membedakan mana yang pandai dan mana yang bukan. Bukankah Islam
mewajibkan umatnya untuk berpendidikan?
Seorang yang mengenyam pendidikan pasti hidupnya tidak
akan terombang ambing. Hidupnya pasti bisa lebih terarah dengan skill yang dimiliki.
Ironisnya, pendidikan terutama di Indonesia, menjadi layaknya barang mahal yang
sulit untuk dibeli. Mungkin sekarang kita bisa bernafas lega, karena mulai dari
Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA)
yang berstatus negeri, sudah banyak yang digratiskan. Akan tetapi untuk
melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi kita mesti harus merogoh saku,
karena saking mahalnya biaya perguruan tinggi itulah banyak yang harus rela
memutus pendidikan hanya sampai lulus SMA.
Kemiskinan adalah faktor utama seorang tidak bisa
melanjutkan pendidikan. Karena dirasa biaya pendidikan itu sangat mahal.
Sehingga mereka berfikir untuk makan saja tidak ada apalagi untuk biaya
pendidikan. Sehingga tidak jarang dari kita yang terpaksa kerja sebagai pengamen,
pengemis, pedagang asongan, dan bahkan menjadi pemulung.
Padahal penerus generasi bangsa ada di tangan pemuda. Kalau
pemuda awalnya sudah seperti ini lantas kepada siapakah Negara akan
dipasrahkan. Sebenarnya kalau difikir faktor utama yang membuat mereka tidak bisa
melanjutkan pendidikan bukan masalah ekonomi, akan tetapi masalah sadar dan
tidak, masalah mau dan tidak.
Sebenarnya yang menjadi masalah adalah bagaimana cara
merubah paradigma berfikir seseorang. Biasanya orang yang sudah terbiasa hidup
miskin cenderung tidak memperdulikan masalah pendidikan. Mereka hanya
mempersoalkan masalah makan, makan dan makan. Kalau mereka tahu akan pentingnya
pendidikan untuk masa depan, tentu mereka akan menempuh cara apapun, meskipun
dalam keadaan miskin.
Sekarang banyak sekali bantuan dari pemerintah, mulai
dari dana BOS, bantuan siswa berprestasi untuk anak yang miskin, dan juga ada
sekolah-sekolah yang memberikan keringanan membayar uang gedung dan uang SPP
bagi yang tidak mampu. Banyak program-program pemerintah yang khusus untuk
menanggulangi problem pendidikan, seperti pemberian beasiswa bagi siswa
berprestasi dari kalangan kurang mampu, yakni melalui Program Bidik Misi, dan
masih banyak lagi. Oleh karena itu, siapapun kita dari berbagai kalangan berhak
untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Sehingga dengan berpendidikan
yang tinggi itu mampu merubah kehidupan menjadi yang lebih baik. Semoga !
Pimpinan Redaksi, Muhammad Ali Murtadlo







0 komentar:
Posting Komentar