Pengarang :
Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books, 2012
Tebal : 369 halaman
Peresensi : Teguh Anshori*)
Kisah
Inspiratif Dari Sang Menteri
Kemiskinan
seringkali menjadi tampik bagi sebagian orang untuk mudah putus asa. Tetapi tidak
bagi dahlan. Kemiskinan yang mendidik Dahlan untuk serba hidup sederhana, rasa
perih dan letih adalah sebagai sahabat yang selalu menemaninya setiap hari.
Rasa sakit dan lecet kakinya yang tak ketinggalan dengan dirinya, ia relakan
untuk berjalan berkilo-kilo meter demi menuntut ilmu.
Pekerjaan
yang begitu menyiksa dirinya pun ia lakukan demi untuk mewujudkan impiannya. Nguli
nyeset, nguli nandur, bahkan sampai menjadi pelatih tim bola voli yang
jaraknya begitu jauh ia lakukan. Semua itu ia lakukan hanya demi impian
besarnya yang selama ini ia idam-idamkan mulai sejak sekolah di SR Bukur.
Sebuah sepatu dan sepeda yang menjadikan ia bekerja keras rela bekerja keras.
Kebon
Dalem yang menjadi tanah kelahirannya menjadikan ia sebagai anak orang yang tak
mampu, mengajarinya hidup sederhana mungkin. Sebuah kampung yang dikelilingi
ladang tebu milik tuan-tuan tanah yang memberikan sebuah riski saat musim
panen. Tak ada orang yang kaya sehingga dengan keterbatasan itu anak-anak Kebon
Dalem sekolah sambil bekerja.
Kelulusan
yang menimpanya dengan nilai merah membuatnya malu untuk melihatkan kepada ayah
dan ibunya. Impian untuk melanjutkan sekolah di SMP Magetan hilang sirna
bagaikan pasir yang diterpa ombak. Keterpaksaan yang harus diterimanya, ia harus
menuruti keputusan ayahnya melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah Takeran.
Sebuah sekolahan yang masih terhitung keluarga dengannya. Jarak antara rumah
dan sekolah yang cukup jauh harus ditempuh dengan kaki yang nyeker.
Kehidupan
yang miskin tak memutuskan semangatnya untuk menuntut ilmu, walaupun jalan kaki
tanpa sepatu ia tak malu, malahan ia menjadi sebuah kapten tim bola voli yang
ada di tsanawiyah takeran tersebut, sebuah kebangaan yang ia rasakan walaupun
tanpa sepasang sepatu.
Sejak
kelas 3 SR Dahlan mulai ikut kerja seperti
kuli nyeset dan kuli nandur, Penghasilan yang tak seberapa. Ia bangga
karena dengan begitu ia mampu menabung untuk membeli sepasang sepatu. Namun
upah yang ia terima kadang masih digunakan untuk keperluan sehari-harinya
membantu orangtuanya.
Ayah
yang bekerja sebagai buruh dan ibu yang sebagai pembatik upahnya tak mencukupi
untuk keperluan keluarga dan sekolah. Dahlan mempunyai dua orang kakak, dari
penghasilan kakaknya tersebut Dahlan membiayai sekolahnya. Belum lagi dengan
adiknya Zain yang masih kecil. Setiap pagi sebelum ia berangkat sekolah selalu mencari
rumput dan setiap sorenya ngangon kambing yang ia miliki.
Hari
memang tak bersahabat dengannya, pagi itu Dahlan dipaksa sama Maryati untuk
menaiki sepedahnya. Dahlan menolak tetapi Maryati terus memaksanya dan akhirnya
ia menaiki juga. Suatu yang tak diinginkan menimpanya ia terjatuh dari sepeda,
dan sepeda itu ringsek karena tergelincir keselokan.
Tak
hanya itu ibunya yang beberapa hari kemarin dirawat dirumah sakit Madiun, hari
ini harus meninggalkanya, Ibunya meninggal dunia. Sebuh hari yang malang
baginya. Kepedihan belum berakhir setelah ibunya meninggal, sepeda maryati yang
kemarin ia rusakkan kini ayah Maryati mendatangi dan meminta
pertanggungjawaban. Tiga ekor dombanya menjadikan tebusan. Dahlan sangat sedih
merasakan kehilangan seorang Ibu dan tiga ekor dombanya untuk menebus sepeda
Maryati.
Hari
demi hari ia lalui dengan kesal sesekali Dahlan menulisnya dalam buku catatan
dan sesekali ia pergi kesungai Kanal untuk meluapkan kesedihan tersebut. Tak
hanya itu Dahlan juga sering membuat ayahnya kecewa.
Tapi
hari ini ia ingin membuat ayahnya tersenyum kembali, hari ini ia dilantik untuk
menjadi pengurus ikatan santri Takeran. Ayahnya pun menyaksikan Dahlan saat
dilantik menjadi seorang pengurus tersebut, dan ayahnya tersenyum. Tak hanya
itu sebentar lagi ia akan bertanding bola voli di kecamatan Takeran, ia
berfikir inilah saatnya membuat ayahnya tersenyum. Namun lagi-lagi ia menemui
sebuah masalah, setelah kehilangan seorang ibu, kini mbak Sofwati harus pergi
ke Kalimantan. Rasanya ia tak ingin kehilangan yang kedua kalinya. Dan yang
paling menyedihkan lagi adalah kepergian mbak Sofwati ini bersamaan dengan
pertandingan bola voli. Kesedihan yang ia rasakan sangat mendalam, tak hanya
itu sebuah peraturan pertandingan bola voli yang harus memakai sepatu. Tapi
kesedihan itu hilang setelah ia memenangkan pertandingan bola voli tersebut.
Kabar
gembira lagi setelah ia menang dalam pertandingan bola voli, ia diminta untuk
menjadi pelatih tim bola voli PG Gorang gareng. Sutau kebanggaan yang luar
biasa. Tiga bulan selang ketika ia menjadi pelatih tim bola voli tersebut
akhirnya ia menerima gaji yang cukup besar, Rp 30.000 gaji yang ia terima, dan
akahirnya ia bisa membeli sebuah sepeda meskipun barang bekas. Sisa gaji yang
masih ada ia gunakan untuk membeli sebuah sepatu ditambah tabungan dari ayah.
Tak hanya membeli sepasang sepatu tapi kini ia membeli dua pasang sepatu, yang
satu pasang untuk adiknya dan yang satu pasang untuk diri. Tidak hanya bangga
menjadi seorang pelatih tetapi, Dahlan bisa bertemu dekat dengan wanita yang
dia kagumi selama ini, Aisyah. Tidak hanya bertemu tetapi ia sering pulang
bareng Dahlan. Dan yang membagakan lagi adalah ketika ia diijinkan ayahnya
melanjutkan kuliah kemana yang ia mau. Sebuah pengorbanan yang tak pernah
pantang menyerah dan sebuah dorongan dari teman-tenannya.
Sebuah
buku karangan Khrisna Pabichara, adalah novel yang sangat menginspirasi kita.
Menyadari betapa susahnya perjuangan Dahlan untuk menggapai sebuah impian.
Sebuah buku yang enak dibaca bahasa tidak terlalu muluk-muluk. Sederhana tapi
maknannya sangat menginspirasi semangat kita. Mulai dari judul kejudul yang
lain, rasanya kita juga ikut andil dalam cerita tersebut ia mampu mengambarkan suasana seperti pada
saat itu juga.
Ini
adalah kisah nyata, sebuah novel yang terinspirasi dari perjalan hidup seorang
Bos CEO Jawa Pos yang saat ini menjadi menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Dalam Novel ini bercerita tentang perjuangan untuk menggapai kehidupan yang
lebih baik yang selalu menarik untuk diikuti kisahnya.
Tak
hanya sebuah novel belaka tetapi isinya menyangkut banyak makna, dari sisi
agama, sosial, bahkan mengingatkan kita akan sejarah pada masa itu. Kita bisa
mengambil sebuah contoh perjuangan Dahlan tersebut, yang mana menuntut ilmu itu
tidaklah segampang apa yang kita bayangkan namun kita perlu sebuah perjuangan
yang begitu berat. Kesuksesan tidak akan bisa kita dapatkan tanpa ada sebuah
pengorbanan. Kita dilahirkan dalam keadaan yang kekurangan tidak menuntutn
untuk tidak bisa hidup sukses, hidup sebagai orang miskin itu harus dijalani
dengan apa adanya. Hukum alam, mengajari kehidupan bagi orang miskin untuk
hidup yang muluk-muluk tetapi juga tidak menuntut untuk berdiam diri, menyerah
pada keadaan.
*) Mahasiswa Bidik Misi
Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI/III), Fakultasa Da’wah.







0 komentar:
Posting Komentar