Cari Blog Ini

Ambisi

Jumat, 31 Agustus 2012

Kisah Inspiratif Dari Sang Menteri


Judul               : Sepatu Dahlan
Pengarang       : Khrisna Pabichara
Penerbit           : Noura Books, 2012
Tebal               : 369 halaman
Peresensi         : Teguh Anshori*)




Kisah Inspiratif Dari Sang Menteri

Kemiskinan seringkali menjadi tampik bagi sebagian orang untuk mudah putus asa. Tetapi tidak bagi dahlan. Kemiskinan yang mendidik Dahlan untuk serba hidup sederhana, rasa perih dan letih adalah sebagai sahabat yang selalu menemaninya setiap hari. Rasa sakit dan lecet kakinya yang tak ketinggalan dengan dirinya, ia relakan untuk berjalan berkilo-kilo meter demi menuntut ilmu.
Pekerjaan yang begitu menyiksa dirinya pun ia lakukan demi untuk mewujudkan impiannya. Nguli nyeset, nguli nandur, bahkan sampai menjadi pelatih tim bola voli yang jaraknya begitu jauh ia lakukan. Semua itu ia lakukan hanya demi impian besarnya yang selama ini ia idam-idamkan mulai sejak sekolah di SR Bukur. Sebuah sepatu dan sepeda yang menjadikan ia bekerja keras rela bekerja keras.
Kebon Dalem yang menjadi tanah kelahirannya menjadikan ia sebagai anak orang yang tak mampu, mengajarinya hidup sederhana mungkin. Sebuah kampung yang dikelilingi ladang tebu milik tuan-tuan tanah yang memberikan sebuah riski saat musim panen. Tak ada orang yang kaya sehingga dengan keterbatasan itu anak-anak Kebon Dalem sekolah sambil bekerja.
Kelulusan yang menimpanya dengan nilai merah membuatnya malu untuk melihatkan kepada ayah dan ibunya. Impian untuk melanjutkan sekolah di SMP Magetan hilang sirna bagaikan pasir yang diterpa ombak. Keterpaksaan yang harus diterimanya, ia harus menuruti keputusan ayahnya melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah Takeran. Sebuah sekolahan yang masih terhitung keluarga dengannya. Jarak antara rumah dan sekolah yang cukup jauh harus ditempuh dengan kaki yang nyeker.
Kehidupan yang miskin tak memutuskan semangatnya untuk menuntut ilmu, walaupun jalan kaki tanpa sepatu ia tak malu, malahan ia menjadi sebuah kapten tim bola voli yang ada di tsanawiyah takeran tersebut, sebuah kebangaan yang ia rasakan walaupun tanpa sepasang sepatu.
Sejak kelas 3 SR Dahlan mulai ikut kerja seperti  kuli nyeset dan kuli nandur, Penghasilan yang tak seberapa. Ia bangga karena dengan begitu ia mampu menabung untuk membeli sepasang sepatu. Namun upah yang ia terima kadang masih digunakan untuk keperluan sehari-harinya membantu orangtuanya.
Ayah yang bekerja sebagai buruh dan ibu yang sebagai pembatik upahnya tak mencukupi untuk keperluan keluarga dan sekolah. Dahlan mempunyai dua orang kakak, dari penghasilan kakaknya tersebut Dahlan membiayai sekolahnya. Belum lagi dengan adiknya Zain yang masih kecil. Setiap pagi sebelum ia berangkat sekolah selalu mencari rumput dan setiap sorenya ngangon kambing yang ia miliki.
Hari memang tak bersahabat dengannya, pagi itu Dahlan dipaksa sama Maryati untuk menaiki sepedahnya. Dahlan menolak tetapi Maryati terus memaksanya dan akhirnya ia menaiki juga. Suatu yang tak diinginkan menimpanya ia terjatuh dari sepeda, dan sepeda itu ringsek karena tergelincir keselokan.
Tak hanya itu ibunya yang beberapa hari kemarin dirawat dirumah sakit Madiun, hari ini harus meninggalkanya, Ibunya meninggal dunia. Sebuh hari yang malang baginya. Kepedihan belum berakhir setelah ibunya meninggal, sepeda maryati yang kemarin ia rusakkan kini ayah Maryati mendatangi dan meminta pertanggungjawaban. Tiga ekor dombanya menjadikan tebusan. Dahlan sangat sedih merasakan kehilangan seorang Ibu dan tiga ekor dombanya untuk menebus sepeda Maryati.
Hari demi hari ia lalui dengan kesal sesekali Dahlan menulisnya dalam buku catatan dan sesekali ia pergi kesungai Kanal untuk meluapkan kesedihan tersebut. Tak hanya itu Dahlan juga sering membuat ayahnya kecewa.
Tapi hari ini ia ingin membuat ayahnya tersenyum kembali, hari ini ia dilantik untuk menjadi pengurus ikatan santri Takeran. Ayahnya pun menyaksikan Dahlan saat dilantik menjadi seorang pengurus tersebut, dan ayahnya tersenyum. Tak hanya itu sebentar lagi ia akan bertanding bola voli di kecamatan Takeran, ia berfikir inilah saatnya membuat ayahnya tersenyum. Namun lagi-lagi ia menemui sebuah masalah, setelah kehilangan seorang ibu, kini mbak Sofwati harus pergi ke Kalimantan. Rasanya ia tak ingin kehilangan yang kedua kalinya. Dan yang paling menyedihkan lagi adalah kepergian mbak Sofwati ini bersamaan dengan pertandingan bola voli. Kesedihan yang ia rasakan sangat mendalam, tak hanya itu sebuah peraturan pertandingan bola voli yang harus memakai sepatu. Tapi kesedihan itu hilang setelah ia memenangkan pertandingan bola voli tersebut.
Kabar gembira lagi setelah ia menang dalam pertandingan bola voli, ia diminta untuk menjadi pelatih tim bola voli PG Gorang gareng. Sutau kebanggaan yang luar biasa. Tiga bulan selang ketika ia menjadi pelatih tim bola voli tersebut akhirnya ia menerima gaji yang cukup besar, Rp 30.000 gaji yang ia terima, dan akahirnya ia bisa membeli sebuah sepeda meskipun barang bekas. Sisa gaji yang masih ada ia gunakan untuk membeli sebuah sepatu ditambah tabungan dari ayah. Tak hanya membeli sepasang sepatu tapi kini ia membeli dua pasang sepatu, yang satu pasang untuk adiknya dan yang satu pasang untuk diri. Tidak hanya bangga menjadi seorang pelatih tetapi, Dahlan bisa bertemu dekat dengan wanita yang dia kagumi selama ini, Aisyah. Tidak hanya bertemu tetapi ia sering pulang bareng Dahlan. Dan yang membagakan lagi adalah ketika ia diijinkan ayahnya melanjutkan kuliah kemana yang ia mau. Sebuah pengorbanan yang tak pernah pantang menyerah dan sebuah dorongan dari teman-tenannya.
Sebuah buku karangan Khrisna Pabichara, adalah novel yang sangat menginspirasi kita. Menyadari betapa susahnya perjuangan Dahlan untuk menggapai sebuah impian. Sebuah buku yang enak dibaca bahasa tidak terlalu muluk-muluk. Sederhana tapi maknannya sangat menginspirasi semangat kita. Mulai dari judul kejudul yang lain, rasanya kita juga ikut andil dalam cerita tersebut  ia mampu mengambarkan suasana seperti pada saat itu juga.
Ini adalah kisah nyata, sebuah novel yang terinspirasi dari perjalan hidup seorang Bos CEO Jawa Pos yang saat ini menjadi menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam Novel ini bercerita tentang perjuangan untuk menggapai kehidupan yang lebih baik yang selalu menarik untuk diikuti kisahnya.
Tak hanya sebuah novel belaka tetapi isinya menyangkut banyak makna, dari sisi agama, sosial, bahkan mengingatkan kita akan sejarah pada masa itu. Kita bisa mengambil sebuah contoh perjuangan Dahlan tersebut, yang mana menuntut ilmu itu tidaklah segampang apa yang kita bayangkan namun kita perlu sebuah perjuangan yang begitu berat. Kesuksesan tidak akan bisa kita dapatkan tanpa ada sebuah pengorbanan. Kita dilahirkan dalam keadaan yang kekurangan tidak menuntutn untuk tidak bisa hidup sukses, hidup sebagai orang miskin itu harus dijalani dengan apa adanya. Hukum alam, mengajari kehidupan bagi orang miskin untuk hidup yang muluk-muluk tetapi juga tidak menuntut untuk berdiam diri, menyerah pada keadaan.

*) Mahasiswa Bidik Misi Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI/III), Fakultasa Da’wah.

0 komentar:

Posting Komentar