Cari Blog Ini

Ambisi

Jumat, 31 Agustus 2012

Catatan Kecil Perempuan Nelayan


Perempuan itu bernama Suhartatik. Usianya sudah hampir mencapai kepala tiga, atau lebih tepatnya ia dilahirkan pada 1 Agustus dua puluh tujuh tahun silam. Hanya sekedar gurat kesederhanaan dalam wajahnya seolah-olah mengisyarahkan hidupnya yang nyata. Hampir 10 tahun ia harus bergelut diantara kehidupan nelayan pesisir, seusia dengan pernikahannya, sosok yang menghadapkannya pada keterbatasan.
Ia bersama masyarakat desa Pucu’an Gebang Sidoarjo dituntut untuk bersiap menghadapi kenyataan pahit, air pasang setiap musim hujan, dan kekeringan selama musim panas, hampir tidak ada infrastruktur yang memadai, begitupun susahnya mendapat pendidikan dan kesehatan yang layak. Kehidupan masyarakat tidak untuk memenuhi keinginan-keinginan yang konsumtif, melainkan pada cara menjawab persoalan-persoalan hidup yang bahkan paling mendasar. bagi bu Tatik, begitu ia akrab disapa, hidup diantara ketidakpastian bukanlah takdir, melainkan sebuah pilihan yang tepat bagi hamba Tuhan yang bertawakkal. Tidak ada manusia yang dihidupkan dalam keadaan yang tidak baik. hanya soal bagaimana manusia itu mampu bersikap.
Suhartatik menjunjung tinggi pentingnya pendidikan. Pendidikan adalah hal yang paling mendasar yang menunjukkan siapa seseorang terhadap seseorang. Pendidikan bukan sekedar formalitas, adalah alat asah untuk menggerakkan seseorang untuk selangkah lebih maju. Adalah hal pokok yang dianggapnya mampu menyelesaikan permasalahan nelayan yang kompleks.
Meskipun ia hanya lulusan SMU, namun semangatnya untuk menghidupkan pendidikan pada anak-anak nelayan di pesisir Sidoarjo sangatlah tinggi meski dengan status sebagai tukang kebun kala itu. Hal itulah yang membuahkannya pada beasiswa untuk memperoleh gelar S1 di salah satu perguruan tinggi negeri terbuka di Surabaya.
Suhartatik beranggapan bahwa walaupun kehidupan nelayan serba terbatas setidak-tidaknya masih ada harapan bagi anak-anak mereka untuk selangkah lebih maju dalam rangkuman cita-cita yang tersemat di benak mereka. bukankah mereka berhak untuk menjalani hidup yang berbeda dengan orang tuanya agar menjadi manusia yang lebih baik yang juga berdampak baik pula terhadap kehidupannya kelak?
Bukanlah langkah yang mudah untuk mewujudkan pendidikan yang semi mandiri seperti saat ini. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi dan mengubah persepsi bahwa pendidikan bukanlah sekedar ijazah melainkan hal yang menjadikan manusia memfungsikan dirinya secara insaniah kepada masyarakat nelayan bukan semudah membalikkan telapak tangan.
Ia bersama beberapa guru tetap yang ditugaskan pemerintah daerah di SD Gebang II harus berpeluh-peluh untuk memberikan inovasi-inovasi dan pengetahuan luas untuk merangsang minat belajar anak. Ia juga menghimpun keluh kesah yang tersemat dalam antusias anak-anak nelayan yang bahkan ada yang rela untuk berjalan kaki dari rumahnya sejauh 2 km untuk mencapai sekolah.
Suhartatik menyebutnya sebagai keteduhan. Tidak ada hal yang membuatnya bertahan menjadi guru honorer sekaligus tukang kebun selain karena gemuruh semangat anak-anak nelayan yang rindu akan kemapanan meski mereka harus betah dalam ruangan kayu yang hampir lapuk dimakan usia.
Setiap hari, ia bertugas untuk menertibkan siswa-siswi agar bersiap menerima pelajaran di kelas, sebab guru-guru pengajar akan tiba di sekolahan pukul 9 dan berakhir pada pukul 11 setelah menempuh perjalanan melalui sungai selama hampir 45 menit. Sehingga peran optimal Bu Tatik memang sangatlah besar.
Perempuan beranak satu itu juga turut andil dalam pendidikan agama bagi masyarakat nelayan. Bersama salah satu Baitul Maal di Sidoarjo ia mendampingi hampir seluruh masyarakat dengan kebutuhan agama. Baginya agama yang mengajari manusia untuk lebih beradab, agama pula yang akan menyeimbangkan dan memfilter logika manusia agar dapat proporsional dalam menjawab kehidupan. Pelajaran agama di sekolah misalnya, yang sebelumnya kurang diperhatikan, juga semacam pendidikan informal setingkat TPQ.
Suhartatik mungkin bukan perempuan yang istimewa di mata kebanyakan orang. Namun ketelatenannya dan sepak terjangnya dalam merekonstruksi kehidupan masyarakat nelayan sangatlah besar. Sebuah wujud keikhlasan yang selalu memberikan warna terindah diatas kertas buram dunia pendidikan. (Khoirotun Nadhifah)

0 komentar:

Posting Komentar