Perempuan itu bernama Suhartatik. Usianya sudah hampir mencapai
kepala tiga, atau lebih tepatnya ia dilahirkan pada 1 Agustus dua puluh tujuh
tahun silam. Hanya sekedar gurat kesederhanaan dalam wajahnya seolah-olah mengisyarahkan
hidupnya yang nyata. Hampir 10 tahun ia harus bergelut diantara kehidupan
nelayan pesisir, seusia dengan pernikahannya, sosok yang menghadapkannya pada
keterbatasan.
Ia bersama masyarakat desa Pucu’an Gebang Sidoarjo dituntut untuk
bersiap menghadapi kenyataan pahit, air pasang setiap musim hujan, dan
kekeringan selama musim panas, hampir tidak ada infrastruktur yang memadai,
begitupun susahnya mendapat pendidikan dan kesehatan yang layak. Kehidupan
masyarakat tidak untuk memenuhi keinginan-keinginan yang konsumtif, melainkan
pada cara menjawab persoalan-persoalan hidup yang bahkan paling mendasar. bagi
bu Tatik, begitu ia akrab disapa, hidup diantara ketidakpastian bukanlah
takdir, melainkan sebuah pilihan yang tepat bagi hamba Tuhan yang bertawakkal. Tidak
ada manusia yang dihidupkan dalam keadaan yang tidak baik. hanya soal bagaimana
manusia itu mampu bersikap.
Suhartatik menjunjung tinggi pentingnya pendidikan. Pendidikan
adalah hal yang paling mendasar yang menunjukkan siapa seseorang terhadap
seseorang. Pendidikan bukan sekedar formalitas, adalah alat asah untuk
menggerakkan seseorang untuk selangkah lebih maju. Adalah hal pokok yang
dianggapnya mampu menyelesaikan permasalahan nelayan yang kompleks.
Meskipun ia hanya lulusan SMU, namun semangatnya untuk menghidupkan
pendidikan pada anak-anak nelayan di pesisir Sidoarjo sangatlah tinggi meski
dengan status sebagai tukang kebun kala itu. Hal itulah yang membuahkannya pada
beasiswa untuk memperoleh gelar S1 di salah satu perguruan tinggi negeri terbuka
di Surabaya.
Suhartatik beranggapan bahwa walaupun kehidupan nelayan serba
terbatas setidak-tidaknya masih ada harapan bagi anak-anak mereka untuk
selangkah lebih maju dalam rangkuman cita-cita yang tersemat di benak mereka.
bukankah mereka berhak untuk menjalani hidup yang berbeda dengan orang tuanya
agar menjadi manusia yang lebih baik yang juga berdampak baik pula terhadap
kehidupannya kelak?
Bukanlah langkah yang mudah untuk mewujudkan pendidikan yang semi
mandiri seperti saat ini. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan
hingga ke jenjang yang lebih tinggi dan mengubah persepsi bahwa pendidikan
bukanlah sekedar ijazah melainkan hal yang menjadikan manusia memfungsikan
dirinya secara insaniah kepada masyarakat nelayan bukan semudah membalikkan
telapak tangan.
Ia bersama beberapa guru tetap yang ditugaskan pemerintah daerah di
SD Gebang II harus berpeluh-peluh untuk memberikan inovasi-inovasi dan
pengetahuan luas untuk merangsang minat belajar anak. Ia juga menghimpun keluh
kesah yang tersemat dalam antusias anak-anak nelayan yang bahkan ada yang rela
untuk berjalan kaki dari rumahnya sejauh 2 km untuk mencapai sekolah.
Suhartatik menyebutnya sebagai keteduhan. Tidak ada hal yang
membuatnya bertahan menjadi guru honorer sekaligus tukang kebun selain karena
gemuruh semangat anak-anak nelayan yang rindu akan kemapanan meski mereka harus
betah dalam ruangan kayu yang hampir lapuk dimakan usia.
Setiap hari, ia bertugas untuk menertibkan siswa-siswi agar bersiap
menerima pelajaran di kelas, sebab guru-guru pengajar akan tiba di sekolahan
pukul 9 dan berakhir pada pukul 11 setelah menempuh perjalanan melalui sungai
selama hampir 45 menit. Sehingga peran optimal Bu Tatik memang sangatlah besar.
Perempuan beranak satu itu juga turut andil dalam pendidikan agama
bagi masyarakat nelayan. Bersama salah satu Baitul Maal di Sidoarjo ia
mendampingi hampir seluruh masyarakat dengan kebutuhan agama. Baginya agama
yang mengajari manusia untuk lebih beradab, agama pula yang akan menyeimbangkan
dan memfilter logika manusia agar dapat proporsional dalam menjawab kehidupan. Pelajaran
agama di sekolah misalnya, yang sebelumnya kurang diperhatikan, juga semacam
pendidikan informal setingkat TPQ.
Suhartatik mungkin bukan perempuan yang istimewa di mata kebanyakan
orang. Namun ketelatenannya dan sepak terjangnya dalam merekonstruksi kehidupan
masyarakat nelayan sangatlah besar. Sebuah wujud keikhlasan yang selalu
memberikan warna terindah diatas kertas buram dunia pendidikan. (Khoirotun
Nadhifah)






0 komentar:
Posting Komentar